oleh

Prof. Ramdhani: Perbedaan dalam Pramuka Jadi Sumber Kekayaan, Bukan Penghambat

BENGKULU.SIN.CO.ID – Pembinaan Pramuka Madrasah tidak cukup hanya membentuk keterampilan di lapangan. Di balik kemampuan mendirikan tenda, membuat simpul, hingga menghadapi tantangan alam, terdapat nilai-nilai yang perlu menjadi pegangan dalam membentuk karakter peserta didik.

Pesan tersebut disampaikan Kepala Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BMBPSDM) Kementerian Agama RI, Prof. Dr. H. Muhammad Ali Ramdhani, S.TP., M.T., saat memberikan pembinaan kepada para bindamping Kemah Pramuka Madrasah Daerah (KPMD) Tingkat Provinsi Bengkulu Tahun 2026, Sabtu (5/9). Dalam kesempatan tersebut, Prof. Ramdhani didampingi Kepala Kanwil Kemenag Provinsi Bengkulu, Dr. H. Saefudin, S.Ag., M.Si. Turut hadir Kepala Pusat Strategi Kebijakan Pendidikan Agama dan Keagamaan, Prof. Dr. Ahmad Zainul Hamdi, M.Ag., Kepala Balai Diklat Keagamaan Palembang, H. Mukmin, S.H.I., M.Sy., Kabag TU, jajaran Kepala Bidang, serta Kepala Kantor Kemenag Kota Bengkulu.

Dalam arahannya, Prof. Ramdhani menyampaikan tiga hal yang harus selalu menjadi pegangan dalam pembinaan Pramuka Madrasah, yakni iman, Islam, dan ihsan. Menurutnya, iman dan Islam selama ini telah menjadi bagian yang kuat dalam pendidikan madrasah, sementara ihsan perlu terus dimaknai dalam perilaku dan kehidupan sehari-hari.

Baca Juga  RIDWAN HISJAM: Memantapkan Gerakan 234 Akan di Ikuti 30% Pemilih Rakyat Indonesia Pada Pemilu dan Pilkada Serentak Tahun 2024

Secara terminologis, Ramdhani menjelaskan ihsan sebagai kesadaran dalam beribadah kepada Allah seolah-olah melihat-Nya. Jika tidak mampu mencapai kesadaran tersebut, seseorang harus meyakini bahwa Allah senantiasa melihat dirinya. Kesadaran inilah yang kemudian perlu diterjemahkan dalam sikap dan perilaku seorang Pramuka. Dalam konteks pembinaan Pramuka Madrasah, nilai tersebut kemudian dijabarkan Prof. Ramdhani melalui akronim IHSAN.

Huruf I dimaknai sebagai integritas. Menurutnya, Dasa Dharma Pramuka harus dibangun di atas integritas, termasuk kemampuan seseorang menjaga jati dirinya. Kejujuran dan kedisiplinan menjadi bagian penting dari nilai tersebut.

Ia menegaskan bahwa kepercayaan merupakan modal penting dalam kehidupan. Karena itu, menjaga kejujuran menjadi salah satu jalan untuk membangun kepercayaan dari orang lain.

“Kalau kita ingin sukses dalam hidup ini, teruslah jujur. Hidup kita sangat tergantung dari kepercayaan, dan kepercayaan adalah modal dalam kehidupan kita,” pesannya.

Baca Juga  Bulan Imunisasi Anak Nasional di Jakarta Utara Targetkan 128.242 Balita

Selain jujur, orang yang berintegritas juga harus disiplin. Disiplin, menurutnya, bukan sekadar mematuhi aturan, tetapi kemampuan mengelola aktivitas dan tanggung jawab dengan baik.

Selanjutnya, huruf H dimaknai sebagai harmoni. Prof. Ramdhani mengingatkan bahwa manusia hidup sebagai makhluk sosial yang membutuhkan satu sama lain. Karena itu, kemampuan membangun kebersamaan menjadi bagian penting dalam kehidupan.

“Kita itu superteam, bukan superman. Perbedaan adalah sumber kekayaan, bukan penghambat,” ujarnya.

 

Menurutnya, harmoni mengajarkan setiap orang untuk mampu hidup bersama secara bijaksana. Perbedaan latar belakang dan kemampuan tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling menjauh, melainkan menjadi kekuatan yang dapat saling melengkapi.

Huruf S dimaknai sebagai spiritual. Sebagai hamba Sang Khalik, kata Ramdhani, hubungan manusia dengan Tuhan merupakan sesuatu yang substansial. Karena itu, nilai spiritual harus terus ditanamkan dalam proses pembinaan Pramuka Madrasah.

Ia meminta para pembina dan pendamping untuk membantu peserta memahami kehidupan tidak hanya dari sisi kemampuan dan keterampilan, tetapi juga melalui kesadaran spiritual dalam menjalani setiap proses kehidupan.

Baca Juga  Satpel Bina Marga Jakpus Tambal Aspal di Flyover Senen

Berikutnya, A adalah adaptasi. Menurutnya, kader dan pemimpin Pramuka harus memiliki kemampuan menyesuaikan diri dengan perkembangan dan perubahan yang dihadapi.

Namun, kemampuan beradaptasi tersebut harus tetap diarahkan pada nilai-nilai kebaikan. Ia mengingatkan pentingnya membangun budaya merangkul, bukan memukul, serta menjadikan fastabiqul khairat atau berlomba-lomba dalam kebaikan sebagai semangat dalam kehidupan.

“Kader dan leader Pramuka harus mampu beradaptasi. Kita harus merangkul, bukan memukul. Mari berlomba-lomba dalam kebaikan,” pesannya.

Sementara huruf terakhir, N, dimaknai sebagai nasionalisme. Ramdhani mengingatkan bahwa pendidikan Pramuka juga memiliki tanggung jawab menanamkan kecintaan terhadap bangsa dan negara. Nilai kebangsaan tersebut harus berjalan seiring dengan nilai keagamaan dan karakter yang dibangun dalam pendidikan Pramuka Madrasah.

Melalui lima nilai tersebut, Prof. Ramdhani berharap para bindamping memiliki perspektif yang lebih luas dalam menjalankan peran selama KPMD berlangsung. Pendamping tidak hanya bertugas memastikan peserta mengikuti agenda kegiatan, tetapi juga menjadi bagian dari proses pendidikan dan pembentukan karakter.(

News Feed